Makanan Murah Meriah di Blok M

Penduduk Ibu Kota Jakarta tidak pernah kehilangan ide untuk mencari tempat tongkrongan yang nyaman sekaligus murah. Di Jakarta Selatan, Blok M menjadi salah satu tujuan bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu bersama rekan dan kerabat sambil berburu makanan enak.

ANAK muda biasanya perlu mengaktualisasi diri dengan kumpul kumpul dengan temanteman, kerabat, dan orang terdekat. Banyak anak muda menghabiskan malamnya di diskotek dan kafe. Namun, sekarang banyak pula anak muda yang nongkrong di supermarket kecil yang menyediakan roti dan panganan lain serta tempat duduk untuk kongkokongko.

Selain di supermarket itu, ada kebiasaan anak muda menongkrong di Blok M dan Bu lungan menikmati makanan murah, meriah, dan enak. Bahkan, seperti gedung seni bu daya di samping Gedung Olahraga Bulungan, ada hiburan band anak anak muda yang baru merintis karier.

Di sana, anak muda melihat band yang tampil dan menilai kelompok itu satu demi satu. Di sana juga ada makanan yang murah meriah seperti kentang goreng, burger, dan nasi goreng dengan harga yang terjangkau bagi kantong anak muda.

Selain itu, di bundaran atau tikungan Blok M, para pedagang kaki lima berderet deret berjualan, seperti gultik alias gulai tikungan, yang dinamai demikian karena irisan dagingnya kecil-kecil. Pedagang lesehan di sekitar kawasan Blok M pun ramai dikunjungi pelanggan. Para pelanggan yang biasanya me rupakan pegawai kantoran dan mahasiswa merasa nyaman melepas lelah di pelataran jajanan kaki lima sambil makan enak, murah, dan meriah.

Tidak hanya itu, jajanan malam di sekitar Blok M itu sudah berlangsung puluhan tahun.Bahkan, mereka sudah sampai generasi ketu runan ketiga. Kekuatan cita rasa masakan yang tidak kalah dengan menu makanan restoran beradu kuat dengan harga yang terjangkau, membuat pelataran kaki lima itu diserbu pelanggan. Gulai tikungan Salah satu makanan yang menjadi favorit ialah gulai tikungan (gultik). Namun, nama gultik dipelesetkan anakanak muda itu men jadi gulai tikus. “Habis potongan dagingnya kecilkecil banget jadi seperti tikus,“ ujar Dini, 27, warga Bintaro yang mengaku sering makan gultik.

Kedai yang memanfaatkan lahan trotoar Plaza Blok M itu hanya dilengkapi angkringan dan tenda warnawarni, serta bangku kecil untuk para pelanggan duduk melingkar di setiap angkringan tukang gulai.

Sungeng, 45, satu dari 25 pedagang gultik di kawasan bundaran Bulungan, menyatakan sudah sejak 1992 dia berjualan di kawasan tersebut. Saat itu, menurutnya, kawasan bundaran Bulungan tidak seramai saat ini.Hanya ada beberapa pedagang gulai yang mangkal di kawasan tersebut. Akhirnya mulai banyak penjual gulai yang meramaikan bundaran Bulungan ini.

“Sejak 1992 saya sudah berdagang di sini,“ ujarnya. Ia menuturkan nama gultik alias gulai tikungan sendiri baru muncul di 1997. Nama gultik sendiri diberikan para pelanggan setianya yang sering mampir ke angkringan miliknya. Mereka akhirnya menamai angkringan gulai tersebut gulai tikus (gultik). Meski demikian, ia menegaskan daging gulai yang digunakan untuk membuat gulai bukanlah daging tikus, melainkan daging tetelantetelan sapi.

“Dagingnya jelas terbuat dari tetelan tetelan sapi. Jadi, tidak perlu khawatir,“ terangnya.
Terkait dengan sejarah dan asal muasal pedagang gultik itu, dirinya menjelaskan sejak pertama kali hanya ada dua orang. Saat itu neneknyalah yang menjadi pelopor pedagang gultik hingga akhirnya diwariskan turun temurun sampai keturunan ketiga, yang saat ini dikelola Sungeng.

Saat ini neneknya sudah tidak mampu lagi berdagang. Usianya saat ini sudah 105 tahun. Kini gilirannya meneruskan usaha turun temurun tersebut. Usahanya pun membuahkan hasil, saat ini gultik sudah dikenal masyarakat di wilayah DKI Jakarta. “Ini usaha turuntemurun, warisan simbah saya. Sudah keturunan ketiga sekarang,“ jelasnya.

Gultik yang dikelola Sungeng dan 25 pedagang lainnya itu mulai buka pukul 17.00 hingga pukul 04.00 WIB. Hanya dengan mengeluarkan uang Rp8.000, pengunjung sudah dapat menikmati seporsi gultik yang lezat. Bau harum dari panci yang dibuka pedagang gultik membuat pelanggan ingin segera menyantap hidangan tersebut. Perpaduan bagian daging tetelan sapi yang gurih dan lunak dengan santan dan rempahrem pah asli Indonesia membuat gultik ini begitu digandrungi penduduk Jakarta Selatan.

“Ada jurus jurus tersendiri seperti memper tahankan cita rasa dari resep turun temurun yang mak nyoss ini. Selain itu, pelayanan ke pada pelanggan. Makanya di sini selalu ramai dikunjungi,“ tambahnya.

Dalam satu bulan, keuntungan yang dida pat kan Sungeng itu mampu meraup laba bersih Rp7 juta. Itu pun belum ditambah dari pendapatan tambahan berupa pesanan angkringan dari polisi di Polda Metro Jaya yang sering ada acara makan bersama sesama polisi. Ada juga pesanan buat pernikahan, ulang tahun, dan acara makan-makan lainnya. Dari setiap pesanan angkringan ini, Sungeng mematok harga Rp2 juta. Meski demikian, harga angkringan itu masih bisa ditawar sesuai dengan kesepakatan dan berapa banyak memakai tetelan sapi, daging sapi semuanya, dan jeroan.

Tidak hanya itu, para pedagang gultik itu juga memiliki perkumpulan pedagang sendiri. Menurutnya, 25 pedagang gultik yang ada itu bergabung dalam Universitas Gultik Mahakam. Perkumpulan tersebut dijadikan wadah ke25 pedagang gultik untuk membuat bisnis lainnya selain gulai. (J2) Media Indonesia, 17/10/2014, halaman 22

About AdeS

Manager Gloria Rent Car Cabang DKI Jakarta. AdeS
This entry was posted in Ekonomi Bisnis and tagged , . Bookmark the permalink.