Giliran Tarif Taksi Segera Naik

Kenaikan tarif angkutan nonreguler dan taksi sedang digodok. Namun, hal itu tidak ba kal banyak memengaruhi keuntungan perusahaan taksi, justru penghasilan sopir bakal berkurang di masa transisi.
SETELAH tarif angkutan umum reguler resmi dinaikkan 30% dari tarifsebelumnya mulai awal pekan ini, sebentar lagi giliran ongkos taksi dan angkutan nonreguler yang bakal menyusul naik sebagai dampak penaikan harga bahan bakar minyak.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Daerah (DPD) Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Safruan mengatakan saat ini pihaknya tengah menggodok tarif baru taksi dan angkutan umum nonreguler.Menurutnya, penentuan kenaikan tarif kedua jenis moda itu memiliki kekhususan.

Taksi, menurut Safruan, memiliki komponen perhitungan tarif berdasarkan jarak tempuh serta lamanya waktu jika terjadi kemacetan. Adapun bus nonreguler memiliki komponen mesin yang berbeda dan jarak yang rata-rata lebih jauh daripada bus reguler.

“Ada beberapa formula untuk kenaikan tarif (taksi dan angkutan nonreguler) yang nanti akan kita negosiasikan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta. Kalau taksi, tetap ada tarif bawah dan tarif atas.Tarif bawah taksi kita yang menetapkan, tapi kalau tarif atas pemerintah (yang menentukan). Ini supaya tidak memberatkan pemerintah,“ katanya, Senin (24/11).

Manajemen Taksi Blue Bird membenarkan bahwa kenaikan tarif taksi memerlukan penghitungan beberapa komponen seperti kemacetan lalu lintas. Humas Blue Bird, Teguh, menyatakan waktu tempuh lalu lintas di Jakarta kini tidak hanya merugikan konsumen, melainkan juga penyedia jasa transportasi taksi karena taksi harus tetap menghidupkan mesin dan pendingin sehingga memboroskan bahan bakar. Namun, hal itu harus dilakukan demi kepuasan pelanggan yang harus membayar lebih mahal walaupun tetap terkena macet.

“Kalau dahulu jarak 5 kilometer bisa ditempuh dalam 30 menit, sekarang bisa 2 jam. Saya tahu kemacetan merugikan bagi semua pihak, tapi kita harus memperhitungkan agar tidak semakin merugikan,“ kata Teguh.Keuntungan perusahaan Sementara itu, pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Ellen Tangkudung, mengatakan kenaikan tarif taksi tidak akan berpengaruh besar terhadap keuntungan perusahaan taksi karena mayoritas pengguna taksi ialah kalangan menengah hingga menengah ke atas yang mementingkan kualitas pelayanan. Walaupun begitu, imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan tetap dirasakan oleh sopir dan perusahaan taksi selama masa transisi ke tarif baru.

“Pengguna taksi sekitar 40% lebih kan middle up. Jadi, mereka mungkin tidak terlalu terpengaruh. Namun ada masa transisi sekitar dua sampai tiga bulan hingga peng guna terbiasa dengan tarif baru,“ ujar Ellen yang juga anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Selasa (25/11).

DTKJ bersama Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, ujarnya, segera membahas kenaikan tarif taksi. Namun, diperkirakan kenaikannya tidak akan terlalu besar, walaupun kenaikan harga BBM bersubsidi saat ini tinggi. Hal tersebut dilakukan agar tidak memberatkan masyarakat yang tergolong menengah.

Di sisi lain, Mulyanto, 35, salah seorang sopir taksi, mengaku belum memetik keuntungan dari menarik taksi sejak ada kenaikan harga BBM lantaran perusahaannya belum memberlakukan tarif baru. Sebelum ada kenaikan harga BBM, dengan menghabiskan 25 liter BBM jenis premium per hari, ia mengaku bisa mendapatkan penghasilan Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Namun, sejak ada kenaikan harga BBM, angka itu masih jauh dari kantongnya. (J-3) Media Indonesia, 27/11/2014, halaman 9

About AdeS

Manager Gloria Rent Car Cabang DKI Jakarta. AdeS
This entry was posted in Transportasi and tagged . Bookmark the permalink.