Tiket Single Trip Tetap Dinanti

Untuk mengakomodasi penumpang yang tidak selalu menggunakan bus Trans-Jakarta, akan ada tiket untuk sekali perjalanan. SEJAK tiket elektronik (e-ticket) diberlakukan untuk menggantikan tiket kertas pada pembayaran moda transportasi Trans-Jakarta di sebagian besar dari 12 koridor, pro dan kontra pun muncul, antara lain protes dari penumpang yang tidak selalu menggunakan transportasi massal itu.

Dalam menghadapi kondisi itu, PT Trans-Jakarta berencana menyediakan pula tiket single trip seperti yang lebih dulu diterapkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Commuter Jabodetabek. Rencana itu disambut antusias oleh pengguna bus tersebut. Dengan adanya tiket single trip, mereka yang jarang menggunakan bus TransJakarta tidak perlu membeli kartu perdana elektronik yang harganya dinilai mahal.

“Baiknya memang begitu. Kasihan kalau semua (penumpang) harus membeli tiket elektronik yang harganya Rp40 ribu (Rp20 ribu untuk biaya kartu dan Rp20 ribu saldo) karena ada juga masyarakat yang jarang menumpang Trans-Jakarta,“ ujar Meritasari, 19, mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Industri, saat ditemui di Halte Harmoni, Jakarta Pusat.

Warga Cipinang, Jakarta Timur, itu mengaku bukan termasuk pengguna rutin Trans-Jakarta.Ia hanya memanfaatkan jasa transportasi umum tersebut saat hendak bepergian jauh. Karena itu, ia juga sempat gusar saat pemerintah menerapkan tiket elektronik karena harga kartu perdana elektronik dari enam bank mitra yang dijual selter bus mencapai Rp40 ribu.

“Padahal, kalau beli kartu prabayar langsung di bank, enggak semahal itu. Namun karena telanjur masuk halte, terpaksa beli kartu elektroniknya di situ,” keluhnya, beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, ia setuju dengan perubahan sistem pembayaran yang semula menggunakan karcis atau tiket kertas menjadi sistem elektronik. Selain menghemat pemakaian kertas, penggunaan tiket elektronik lebih efi sien. Ia juga berharap penghitungan tarif pada penggunaan tiket single trip atau tiket harian berjaminan tersebut disesuaikan dengan jarak tempuh.

Berdasarkan data terbaru, tiga koridor yang terakhir menerapkan tiket elektronik ialah koridor 10, 11, dan 12. Tiket tersebut mulai diberlakukan pada Sabtu (13/12). Koridor 10 melayani rute Tanjung Priok-Cililitan, koridor 11 rute Kampung MelayuPulogebang, dan Koridor 12 rute Pluit-Tanjung Priok. Sementara itu, penumpang lainnya, Vera Yanti, 27, mengatakan pemberlakuan tiket single trip membuat pengguna bus Trans-Jakarta punya pilihan.

Warga Kalideres itu menilai penggunaan tiket elektronik dengan kartu perdana seharga Rp40 ribu tidak tepat. Ia bahkan mengaku kerap kasihan melihat raut wajah calon penumpang yang bimbang ketika diberi tahu tidak ada pilih an jenis kartu yang bisa dibeli.

Lebih jauh ia menekankan kepada pemerintah agar me mikirkan teknik penggunaan kartu single trip. Jika berkaca pada penerapan tiket elektronik yang berlaku di KRL, pengguna diharuskan melakukan tap-in dan tap-out sebelum naik dan saat turun.

“ Kalau sistem tiket single tripnya mau mirip KRL, berarti harus melalui proses tap-in dan tap-out.Gate di selter selama ini fungsinya lebih untuk tap-in. Kalau buat tapout, berarti gate-nya harus ditambah. Padahal, halte Trans-Jakarta sempit,“ paparnya. (J-3) Media Indonesia, 16/12/2014, halaman 7

About AdeS

Manager Gloria Rent Car Cabang DKI Jakarta. AdeS
This entry was posted in Transportasi and tagged . Bookmark the permalink.