DKI JAKARTA Pengamen di Angkutan Umum akan Ditertibkan

Kehadiran pengamen menghambat upaya mengalihkan warga dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, guna mengatasi kemacetan lalu lintas.

DINAS Sosial DKI Jakarta segera mensterilkan angkutan umum dari para pengamen, termasuk pengamen punk yang belakangan meresahkan penumpang. Kehadiran mereka juga dinilai menjadi salah satu penghambat upaya pemerintah mendorong pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum.

Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta Prayitno mengatakan, untuk penertiban itu, pihaknya segera berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, dan Polda Metro Jaya. Koordinasi akan dimulai Januari 2015.

“Pak Kepala Dinas (Sosial) memang berencana untuk bertemu dengan dishub, Satpol PP, dan kepolisian untuk mengadakan rapat mengenai hal ini,“ ujar Prayitno, kemarin.

Ia mengakui adanya pengamen dalam angkutan umum menghambat upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk mendorong warga beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Namun, para pengamen, terutama pengamen punk, sulit ditertibkan, sebab mobilitas mereka tinggi dan jarang menetap di satu wilayah dalam waktu yang lama.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Bidang Pengendali Operasi Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo. Menurutnya, petugas dishub tidak memiliki wewenang menertibkan pengamen di angkutan umum. Jajarannya hanya diperbolehkan turun tangan jika aksi pengamen meresahkan dan menjurus pada tindak kriminal. Namun, Syafrin juga mengaku kesulitan menertibkan pengamen punk, karena saat angkutan masih berada di terminal, mereka berpurapura sebagai penumpang.

Pengamen punk baru beraksi setelah angkutan umum jauh dari terminal dan tidak ada lagi petugas dishub yang mengawasi.

“Pengamen punk berbeda dengan pengamen umumnya.
Mereka tidak membawa alat musik dan terlihat seperti penumpang biasa ketika baru naik angkutan umum. Mereka akan beraksi saat angkutan umum berjalan dan kami tidak mungkin mencegat setiap orang yang naik angkutan umum meski mereka berdandan menyeramkan, karena bisa saja mereka benar-benar penumpang,” katanya.

Sementara itu, Nur Baya, 43, warga Pekayonjaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, ditodong oleh dua anak punk di dalam angkutan kota (angkot) pada Senin (22/12) sekitar pukul 17.25 WIB. Peristiwa terjadi di sekitar Stasiun Kereta Api Bekasi saat menumpang angkot K 02 dari Pondok Gede.

Menurutnya, di lokasi itu, dua anak punk tiba-tiba masuk dan langsung meminta uang kepadanya, yang saat itu sendirian di bangku penumpang.

Karena ia tidak diberi uang, salah seorang dari mereka menodongkan pisau lipat ke arah perutnya. Karena panik, ia berteriak, sehingga kedua anak punk tersebut melarikan diri. (Put/Gan/J-3) Media Indonesia, 24/12/2014 halaman 8

About AdeS

Manager Gloria Rent Car Cabang DKI Jakarta. AdeS
This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.